Fakta Menarik Pendidikan di Jepang: Budaya Disiplin dan Seni Kaligrafi

Edufact, OHM Academy- Dalam artikel Edufact ini kami akan memberikan fakta menarik tentang pendidikan luar negeri, yaitu pendidikan di Jepang yang dikenal sangat disiplin dan terstruktur.

Pendidikan di Jepang kerap menjadi sorotan internasional, bukan hanya karena prestasi akademik para siswanya yang tinggi, tetapi juga karena metode sekolah dalam membentuk karakter serta kebiasaan sehari-hari mereka. Di negara yang terkenal dengan kedisiplinan dan sopan santunnya, sekolah berfungsi lebih dari sekadar tempat mempelajari mata pelajaran seperti matematika atau bahasa; sekolah juga menjadi arena untuk menanamkan nilai-nilai moral, kerjasama, dan apresiasi terhadap budaya tradisional. Salah satu contohnya adalah seni kaligrafi (shodō), yang diajarkan sejak tingkat sekolah dasar sebagai bagian dari pendidikan karakter. Dengan kombinasi kedisiplinan yang konsisten dan pengenalan seni tradisional, sistem pendidikan Jepang mampu mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan budaya.

  1. Pendidikan Jepang Menumbuhkan Disiplin Sejak Usia Dini
    Salah satu keunikan sistem pendidikan di Jepang terletak pada upaya menanamkan sikap disiplin kepada siswa sejak usia dini. Nilai ini tidak hanya tercermin dari sikap siswa saat mengikuti pembelajaran di kelas, tetapi juga tampak jelas dalam aktivitas rutin yang dijalankan setiap hari di lingkungan sekolah.
    Para siswa di Jepang secara aktif mengikuti kegiatan souji, yaitu membersihkan ruang kelas dan fasilitas umum sekolah bersama-sama. Melalui kegiatan ini, siswa dilatih untuk bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar serta membangun kerja sama dengan teman-temannya.  Selain itu, tingkat kehadiran siswa di sekolah tergolong sangat tinggi, bahkan mendekati 99,99 persen. Angka tersebut mencerminkan kuatnya rasa tanggung jawab dan komitmen siswa dalam menjalani kewajiban belajar.
    Pembentukan karakter juga diperkuat melalui mata pelajaran dōtoku, yakni pendidikan moral yang menjadi bagian wajib dalam kurikulum. Dalam pelajaran ini, siswa diajarkan nilai-nilai seperti etika, empati, dan semangat kerja keras. Secara keseluruhan, pendekatan pendidikan tersebut berhasil membentuk sikap disiplin tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam kehidupan sosial, yang kemudian terbawa hingga mereka dewasa.
  2. Bukatsudō sebagai Sarana Pembentukan Disiplin dan Kolaborasi
    Pada jenjang sekolah menengah, pelajar di Jepang didorong untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler yang disebut bukatsudō. Berbagai pilihan klub, seperti olahraga, musik, maupun seni tradisional, disediakan sebagai sarana bagi siswa untuk mengasah kemampuan dan minat mereka di luar proses pembelajaran di kelas.
    Keterlibatan dalam kegiatan klub membantu siswa menumbuhkan sikap tekun, belajar bekerja sama dalam kelompok, serta mengelola waktu antara tuntutan akademik dan aktivitas lainnya. Di samping itu, interaksi yang terjalin dalam bukatsudō juga berperan dalam memperkuat hubungan sosial dan menciptakan rasa kebersamaan di lingkungan sekolah. Tidak jarang, budaya bukatsudō dipandang sama pentingnya dengan pembelajaran akademik karena memberikan bekal keterampilan hidup (life skills) yang berguna bagi siswa dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat di masa depan.
  3. Kaligrafi (Shodō): Integrasi Seni Tradisional dalam Pendidikan Sekolah
    Salah satu hal yang membuat sistem pendidikan di Jepang begitu menarik adalah kemampuannya menggabungkan nilai budaya tradisional ke dalam pembelajaran formal. Hal ini terlihat jelas melalui pengajaran seni kaligrafi Jepang, yang dikenal dengan istilah shodō.
    Shodō merupakan seni menulis huruf menggunakan kuas dan tinta dengan penekanan pada keindahan bentuk dan makna. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada hasil tulisan, tetapi juga menjadi sarana untuk mengekspresikan kepribadian serta perasaan penulisnya. Di tingkat pendidikan dasar, siswa mulai diperkenalkan dengan kaligrafi sejak kelas tertentu, umumnya sekitar kelas tiga sekolah dasar, melalui mata pelajaran shosha. Pembelajaran ini menjadi bagian dari kurikulum resmi yang diajarkan secara bertahap.
    Lebih dari sekadar aktivitas seni, shodō berfungsi sebagai latihan untuk meningkatkan fokus, kesabaran, dan ketelitian siswa. Nilai-nilai tersebut berperan penting dalam pembentukan karakter dan pengembangan sikap positif dalam proses belajar.
    Dalam praktik kaligrafi Jepang (shodō), digunakan sejumlah peralatan khusus, antara lain fude (kuas), sumi (batang tinta), suzuri (batu tinta), kami (kertas), bokuju (tinta Jepang), bunchin (pemberat kertas), fude oki (penyangga kuas), mizuashi (air bersih), shitajiki (alas kain flanel), obon (wadah peralatan), hanko (stempel tanda tangan), serta shuniku (tinta khusus untuk stempel). Namun, pada kegiatan pelatihan ini hanya digunakan beberapa peralatan utama, yaitu fude, kami, bokuju, dan mizuashi.
    Dalam sistem penulisan bahasa Jepang, huruf kanji tersusun dari berbagai garis dan goresan yang memiliki aturan tertentu. Beberapa istilah penting dalam pembentukan kanji antara lain bushu, yaitu bagian atau komponen dalam sebuah kanji yang berfungsi sebagai penentu makna; kakusuu, yakni jumlah garis atau goresan yang membentuk suatu karakter; serta rikusho, yang merujuk pada klasifikasi dan prinsip pembentukan serta penggunaan huruf kanji.
  4. Semarak Kegiatan dan Komunitas Kaligrafi di Jepang
    Seni kaligrafi di Jepang tidak hanya dipraktikkan dalam lingkungan pendidikan formal, tetapi juga tumbuh dan berkembang di tengah kehidupan masyarakat. Beragam tradisi dan aktivitas komunitas menjadi bukti bahwa kaligrafi masih memegang peranan penting dalam budaya Jepang hingga saat ini.
    Salah satu tradisi yang terus dilestarikan adalah kakizome, yakni kegiatan menulis kaligrafi pertama pada pergantian tahun yang mengandung makna simbolik dan nilai budaya yang kuat. Tradisi ini kerap diberikan sebagai tugas kepada siswa selama masa libur musim dingin di berbagai sekolah.
    Di samping itu, terdapat kompetisi berskala nasional seperti Shodō Performance Kōshien yang mengombinasikan seni kaligrafi dengan iringan musik serta penampilan kelompok di atas panggung. Ajang ini menunjukkan bahwa kaligrafi mampu beradaptasi secara kreatif dan tetap menarik minat generasi muda.
  5. Perpaduan Nilai Tradisional dan Modern dalam Pendidikan Jepang
    Meskipun pendidikan di Jepang dikenal memiliki sistem yang maju serta tingkat kompetisi yang tinggi, upaya pelestarian budaya tetap mendapat perhatian besar dalam proses pembelajaran. Pendidikan tidak semata-mata difokuskan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga diarahkan pada pemahaman serta penghargaan terhadap warisan budaya nasional.
    Di samping pembelajaran kaligrafi, siswa juga diperkenalkan pada karya sastra tradisional seperti haiku, serta dilibatkan dalam berbagai kegiatan budaya lainnya, termasuk upacara minum teh dan latihan seni bela diri. Aktivitas-aktivitas tersebut berfungsi sebagai sarana pembentukan karakter, sekaligus menanamkan sikap disiplin dan rasa hormat terhadap tradisi.
    Dengan pendekatan yang seimbang antara tradisi dan modernitas, siswa Jepang tidak hanya memahami identitas budayanya, tetapi juga dibekali kemampuan untuk beradaptasi dan berkompetisi dalam dinamika masyarakat global.
  6. Keistimewaan Sistem Pendidikan di Jepang Lainnya
    1. Penekanan pada Pembentukan Karakter di Awal Pendidikan
      Pada tiga tahun pertama sekolah dasar, sistem pendidikan Jepang tidak menekankan ujian akademik formal. Fokus utama pembelajaran diarahkan pada pembentukan karakter siswa, seperti pengembangan sikap sopan santun, empati, kepedulian terhadap sesama, serta kecintaan terhadap alam, bukan semata-mata pencapaian nilai akademik.
    2. Keterlibatan Siswa dalam Menjaga Kebersihan Sekolah
      Siswa memiliki tanggung jawab untuk membersihkan lingkungan sekolah, termasuk ruang kelas, lorong, dan toilet. Kegiatan ini bertujuan menanamkan rasa tanggung jawab, kemandirian, serta semangat kebersamaan di antara siswa.
    3. Budaya Makan Siang Bersama di Sekolah
      Sekolah menyediakan menu makan siang yang sehat dan bergizi, yang disantap bersama oleh para siswa. Melalui kegiatan ini, siswa diajarkan untuk menghargai makanan, memahami pentingnya gizi seimbang, serta membiasakan diri dengan pengaturan porsi yang baik.
    4. Pendidikan di Luar Sekolah
      Pembelajaran di Jepang tidak hanya berlangsung di sekolah. Pemerintah menyediakan fasilitas publik seperti museum dan perpustakaan yang terbuka untuk semua usia, sehingga masyarakat bisa menambah pengetahuan sekaligus belajar nilai-nilai moral.
    5. Liburan Panjang
      Di Jepang, siswa memiliki periode liburan yang cukup panjang. Liburan musim panas berlangsung sekitar enam minggu, dengan beberapa tugas ringan agar pembelajaran tetap berlanjut. Selain itu, terdapat juga liburan musim dingin dan musim semi yang memberi kesempatan bagi siswa untuk beristirahat dan mengisi waktu luang secara bermanfaat.

Pendidikan di Jepang menunjukkan bahwa belajar tidak sekadar mengejar nilai atau angka, tetapi juga menekankan pengembangan karakter, kreativitas, dan rasa tanggung jawab. Mulai dari kedisiplinan sehari-hari di sekolah, latihan kaligrafi yang menenangkan, hingga berbagai kegiatan budaya yang sarat makna, setiap pengalaman membantu siswa menjadi pribadi yang cerdas, bijak, dan berbudaya. Sistem ini mengajarkan bahwa kesuksesan sejati lahir dari perpaduan antara pengetahuan, etika, dan kreativitas. Semoga kisah pendidikan Jepang dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menanamkan disiplin, semangat belajar, dan kecintaan pada budaya sejak usia dini karena masa depan yang gemilang dibangun dari fondasi karakter yang kuat.

Referensi:
Bahasajepangs1. (2021, Februari 15). 5 fakta unik sistem pendidikan di Jepang. Bahasa Jepang S1 Universitas Widyatama. Diakses dari https://bahasajepangs1.widyatama.ac.id/5-fakta-unik-sistem-pendidikan-di-jepang/
Fakultas Fisipol Universitas Medan Area. (n.d.). Fakta Menarik tentang Sistem Sekolah Jepang. Fisipol UMA.
Guru Berdaya. (2024, 17 Juli). 7 fakta menarik sistem pendidikan di Jepang. Diakses dari https://guruberdaya.org/7-fakta-menarik-sistem-pendidikan-di-jepang/
Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang BINUS. (2025, Mei 29). Sistem Pendidikan di Jepang. BINUS Student Activity.
Kojong, Maxi, Ilke Janemralina Moniung, and Tatiana Stary Claudia, ‘Pengenalan Budaya Tradisional Jepang Kaligrafi ( Shodou ) Kepada Mahasiswa Politeknik Jurusan Pariwisata Manado’, 5.2 (2025)
Kompas.com. (2025, Juli 10). Kenali Sistem Pendidikan di Jepang, Tak Ada Tinggal Kelas hingga Pelajaran Rumah Tangga. Kompas Edu.
P2K Universitas STEKOM Semarang. (n.d.). Pendidikan di Jepang. Ensiklopedia Dunia.
Unlimited Motivation. (2025, Agustus 19). Sistem Kurikulum Pendidikan Dasar Jepang. Candra.us.
Wikipedia. (n.d.). Kominkan. Diakses dari Wikipedia: artikel “Kominkan”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top