Persiapan UTBK 2026: Materi Penting Penalaran Umum yang Sering Muncul

Mster Soal, OHM Academy- Dalam artikel ini kami akan membahas terkait prediksi soal Tes Potensi Skolastik UTBK yang berfokus pada Penalaran Umum (PU).  Setiap tahun, ribuan siswa di Indonesia mempersiapkan diri menghadapi Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) sebagai bagian dari Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Ujian ini bukan sekadar sarana masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN), tetapi juga instrumen untuk menilai kemampuan berpikir kritis, penalaran logis, serta literasi peserta didik.

Memasuki tahun 2026, Kemendikbudristek melalui Balai Pengelolaan Pengujian Pendidikan (BP3) terus menyempurnakan format UTBK agar selaras dengan paradigma asesmen berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS). Perubahan ini bertujuan menilai pemahaman konseptual dan kemampuan pemecahan masalah, bukan sekadar hafalan. Oleh karena itu, memahami materi utama dan pola soal yang diujikan menjadi langkah strategis dalam mempersiapkan diri secara efektif. Artikel ini akan mengulas prediksi soal UTBK 2026 serta materi esensial yang perlu dikuasai.

Apa Saja Materi Penalaran Umum yang sering Muncul dalam UTBK?

Tes Potensi Skolastik (TPS) UTBK mengukur kemampuan berpikir logis, analitis, dan pemahaman informasi peserta. Materi yang sering muncul meliputi penalaran umum, baik induktif maupun deduktif, untuk menarik kesimpulan dari pola atau premis; penalaran kuantitatif, seperti aritmatika, aljabar, geometri, dan statistika dasar; serta pemahaman bacaan dan penalaran verbal, yang menekankan ide utama, kesimpulan, dan makna kata dalam konteks. Selain itu, penalaran analitis juga diuji melalui identifikasi pola, hubungan, dan urutan logis. Fokus utama TPS adalah kemampuan berpikir kritis dan analisis, bukan hafalan.

Berdasarkan penjelasan tersebut, yang menjadi pembahasan utama pada artikel ini yaitu Penalaran Umum. Apa itu Penalaran Umum, bagaimana bentuk soal dan pembahasan materinya, dapat dilihat sebagai berikut ini:

  1. Penalaran Umum
    PenalaranUmum adalah kemampuan berpikir secara logis dan terstruktur untuk menarik kesimpulan, memecahkan permasalahan baru, serta memahami keterkaitan antar gagasan berdasarkan informasi yang tersedia. Kemampuan ini tidak bergantung pada hafalan, melainkan menekankan analisis pola, hubungan sebab-akibat, serta penggunaan logika verbal dan numerik.
    1. Penalaran Induktif
      Penalaran induktif merupakan cara berpikir yang dimulai dari fakta atau data khusus untuk menghasilkan kesimpulan yang bersifat umum.
      • Pola pikir: dari hal khusus menuju hal umum.
      • Sifat kesimpulan: bersifat probabilistik, artinya kemungkinan besar benar, namun tidak selalu pasti. Kesimpulan dapat berubah jika muncul informasi baru.
      • Contoh:
        • Pengamatan: “Setiap kali Andi menanam bibit cabai di pekarangan, cabainya selalu tumbuh subur.”
        • Kesimpulan induktif: “Kemungkinan besar, jika Andi menanam bibit cabai baru, cabainya juga akan tumbuh subur.”
      • JenisJenis Penalaran Induktif
        • Generalisasi: Membuat kesimpulan umum berdasarkan beberapa contoh atau fakta yang ada.
        • Analogi: Menyimpulkan sesuatu dengan membandingkan dua hal yang memiliki kesamaan tertentu.
        • Hubungan sebab-akibat: Menarik kesimpulan mengenai hubungan antara penyebab dan akibat suatu peristiwa.
    2. Penalaran deduktif
      Penalaran deduktif merupakan kebalikan dari penalaran induktif. Cara berpikir ini dimulai dari premis atau pernyataan umum untuk menghasilkan kesimpulan yang lebih spesifik dan bersifat pasti.
      • Pola pikir: dari hal umum menuju hal khusus.
      • Sifat kesimpulan: benar secara pasti, asalkan semua premis yang digunakan juga benar.
      • Contoh:
        • Premis 1: “Jika seseorang belajar dengan tekun, maka nilainya akan meningkat.”
        • Premis 2: “Siti belajar dengan tekun.”
        • Kesimpulan: “Maka, nilai Siti akan meningkat.”
      • Macam-macam Penalaran Deduktif:
        • Silogisme: Menarik kesimpulan dari dua premis, misalnya silogisme hipotesis (Jika P maka Q, jika Q maka R, maka jika P maka R) atau silogisme kategoris (Semua A adalah B, C adalah A, maka C adalah B).
        • Modus Ponens: Jika P maka Q, dan P benar, maka Q juga benar.
        • Modus Tollens: Jika P maka Q, dan Q salah, maka P juga salah
    3. Penalaran Kuantitatif
      Penalaran Kuantitatif merupakan kemampuan mengolah angka, data, serta logika matematika dasar seperti aritmatika, aljabar, dan perbandingan untuk menganalisis informasi, mengidentifikasi pola, serta menarik kesimpulan secara logis dalam pemecahan masalah atau pengambilan keputusan. Kemampuan ini sering diujikan dalam proses seleksi seperti UTBK-SNBT dan rekrutmen kerja guna menilai kemampuan berpikir secara terukur. Penalaran kuantitatif mencakup soal deret angka, perhitungan, perbandingan jumlah, dan kecukupan data, dengan penekanan pada pemahaman dan interpretasi data nyata, bukan pada konsep matematika lanjutan.
      • Contoh :
        • Sebuah mobil menempuh jarak 180 km.
        • Data (1): Kecepatan mobil 60 km/jam.
        • Data (2): Waktu tempuh 3 jam.
      • Aspek Utama Penalaran Kuantitatif
        • Berpikir Logis Berbasis Angka: Memahami masalah menggunakan data terukur (jumlah, pola, perbandingan), bukan opini.
        • Elemen Matematika Dasar: Operasi hitung (tambah, kurang, kali, bagi), deret angka, aljabar sederhana, perbandingan, dan interpretasi data.
      • Jenis Soal:
        • Deret Bilangan: Menentukan pola angka (misal: 2, 4, 6, __, 10)
        • Aritmatika & Aljabar: Soal cerita sederhana (kecepatan, kerja, harga)
        • Kecukupan Data: Menilai apakah informasi cukup
        • Perbandingan Kuantitatif: Membandingkan dua kuantitas (P dan Q)
        • Fungsi Seleksi: Digunakan dalam TPS UTBK-SNBT dan tes sejenis untuk mengukur kemampuan analisis dan pemecahan masalah.
  2. Tips Mengerjakan Soal Penalaran Induktif dan Deduktif UTBK
    • Pahami premis dan informasi utama: Baca soal dengan seksama dan jangan menambahkan asumsi yang tidak ada dalam teks.
    • Kenali jenis penalaran: Tentukan apakah soal membutuhkan pendekatan induktif (dari khusus ke umum) atau deduktif (dari umum ke khusus).
    • Waspadai jawaban yang terlalu mutlak: Dalam soal induktif, hindari jawaban dengan kata-kata seperti “selalu”, “pasti”, atau “semua”, kecuali data mendukung sepenuhnya.
    • Perhatikan detail: Catat angka, fakta, atau kondisi yang spesifik dalam soal karena sering menjadi kunci jawaban.
    • Gunakan logika langkah demi langkah: Terutama pada soal deduktif, pastikan setiap premis diproses dengan benar sebelum menarik kesimpulan.
    • Rutin berlatih: Latihan soal induktif dan deduktif akan melatih kemampuan analisis, pengamatan pola, dan berpikir kritis.
    • Kelola waktu dengan baik: Jangan terlalu lama pada satu soal; pahami pola dan premis terlebih dahulu, lalu tarik kesimpulan.

Contoh Soal dan Pembahasannya

  1. Penalaran Induktif
    Bacalah teks berikut untuk menjawab soal nomor 1–2!
    Di tengah perkembangan zaman yang serba cepat, masyarakat dituntut untuk terus belajar dan beradaptasi. Pendidikan tidak lagi terbatas pada ruang kelas, tetapi dapat diakses melalui berbagai platform digital. Namun, kemudahan ini juga menuntut kedisiplinan dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi. Dengan semangat belajar yang tinggi dan pemanfaatan teknologi secara positif, masyarakat dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang siap bersaing di era global.
    1. Simpulan terbaik dari teks di atas adalah…
    1. Teknologi menggantikan peran guru dalam proses pembelajaran modern
    2.  Kemajuan teknologi membuat masyarakat tidak perlu lagi belajar di sekolah.
    3. Teknologi memberikan kemudahan belajar tetapi memerlukan tanggung jawab dalam penggunaannya.
    4. Perkembangan zaman membuat masyarakat sulit beradaptasi dengan perubahan.
    5. Pendidikan digital tidak berpengaruh terhadap peningkatan kualitas manusia
      Jawaban: C
      Pembahasan: Teks menjelaskan bahwa teknologi mempermudah akses pendidikan, tetapi menuntut tanggung jawab. Jadi, simpulan yang tepat adalah C.
  2. Berdasarkan teks, pernyataan yang paling mungkin benar adalah…
    1. Pendidikan hanya dapat dilakukan di ruang kelas agar efektif.
    2. Masyarakat yang disiplin dalam belajar digital akan lebih siap menghadapi tantangan global.
    3. Perkembangan teknologi membuat orang menjadi malas belajar.
    4. Kemajuan zaman justru menghambat proses pembelajaran.
    5. Teknologi digital membuat semua orang otomatis pintar tanpa usaha.

Jawaban: B
Pembahasan: Teks menekankan pentingnya kedisiplinan dan tanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi agar masyarakat mampu bersaing di era global → sesuai dengan B.

  1. Penalaran Deduktif
    1. Premis 1: Jika lampu menyala, maka ada arus listrik.
      Premis 2: Lampu tidak menyala.
      Kesimpulan yang benar adalah…..
      1. Ada arus listrik.
      2. Tidak ada arus listrik
      3. Lampu akan menyala besok.
      4. Semua lampu tidak menyala.
      5. Tidak bisa ditentukan

Jawaban: B
Pembahasan: Ini termasuk modus tollens. Premis menyatakan “Jika P maka Q”, dan Q salah (lampu tidak menyala). Maka P juga salah, sehingga tidak ada arus listrik

  1. Premis 1: Jika hari hujan, maka tanah akan basah.
    Premis 2: Tanah tidak basah.
    Kesimpulan yang benar adalah…
    1. Hari ini hujan
    2. Hari ini tidak hujan
    3. Tanah bisa kering meskipun hujan
    4. Tidak bisa ditentukan
    5. Tidak bisa ditentukan

Jawaban: B.
Pembahasan: Ini termasuk modus tollens. Premis menyatakan “Jika P maka Q”, dan Q salah (tanah tidak basah). Maka P juga salah (hari ini tidak hujan).

  1. Premis 1: Semua profesor di universitas A memiliki gelar doktor.
    Premis 2: Semua dosen yang memiliki gelar doktor bisa mengajar mata kuliah penelitian.
    Premis 3: Pak Budi adalah profesor di universitas A.
    Kesimpulan yang benar adalah….
    1. Pak Budi tidak bisa mengajar mata kuliah penelitian
    2. Pak Budi bisa mengajar mata kuliah penelitian
    3. Semua profesor bisa mengajar mata kuliah penelitian
    4. Pak Budi adalah dosen di universitas lain
    5. Tidak bisa disimpulkan

Jawaban: B.
Pembahasan: Langkah logikanya:

  • Pak Budi adalah profesor di universitas A → Premis 1 → Pak Budi memiliki gelar doktor.
  • Semua yang memiliki gelar doktor bisa mengajar mata kuliah penelitian → Pak Budi bisa mengajar. Ini adalah kombinasi silogisme bertingkat.
  1. Penalaran Kuantitatif
    1. Sebuah motor menempuh jarak 180 km dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam. Jika motor tersebut meningkatkan kecepatannya menjadi 90 km/jam, berapa waktu yang dapat dihemat?
      1. 20 menit
      2. 30 menit
      3. 40 menit
      4. 50 menit
      5. 60 menit

Jawaban: E
Pembahasan:

Langkah 1: Hitung waktu tempuh awal
Rumus waktu:

Langkah 2: Hitung waktu tempuh baru

Langkah 3: Hitung waktu yang dihemat

waktu dihemat = t1− t2 = 3 – 2 = 1 jam

1 jam=60 menit

  1. Selama 4 bulan terakhir, sebuah toko menjual paket pensil. Pada bulan pertama, toko menjual 800 paket. Pada bulan kedua, penjualan naik 30% dibanding bulan pertama. Bulan ketiga, penjualan turun 15% dari bulan kedua. Namun, pada bulan keempat, penjualan kembali meningkat 20% dibanding bulan ketiga. Jika harga satu paket pensil Rp 5.000, maka rata-rata pendapatan toko per bulan selama empat bulan tersebut adalah …
    1. Rp4.880.000
    2. Rp5.950.000
    3. Rp.4.731.250
    4. Rp4.150.000
    5. Rp6.200.000

Jawaban:
Pembahasan:
Soal:
Selama 4 bulan terakhir, sebuah toko menjual paket pensil.Bulan 1: 800 paket

  • Bulan 2: naik 30% dari bulan 1
  • Bulan 3: turun 15% dari bulan 2
  • Bulan 4: naik 20% dari bulan 3
  • Harga per paket = Rp 5.000

Ditanya: rata-rata pendapatan per bulan.
Langkah 1: Hitung penjualan tiap bulan

  1. Bulan 1: 800 paket
  2. Bulan 2: 800 × 1,3 = 1040 
  3. Bulan 3: 1040 × 0,85 =884 paket
  4. Bulan 4: 884 ×1,2 = 1060,8 ≈ 1061 paket (dibulatkan)

Langkah 2: Hitung pendapatan tiap bulan
Harga per paket = Rp 5.000
Bulan 1: 800 × 5.000 = 4.000.000
Bulan 2: 1040 × 5.000 = 5.200.000
Bulan 3: 884 × 5.000 = 4.420.000
Bulan 4: 1061 × 5.000 = 5.305.000

Langkah 3: Hitung total dan rata-rata pendapatan
Total pendapatan = 4.000.000 + 5.200.000 + 4.420.000 + 5.305.000

 Soal Latihan Ayo Kerjakan!

  1. Penalaran Induktif
    Bacalah teks berikut untuk menjawab pertanyaan!
    Kemajuan teknologi telah membawa perubahan besar dalam dunia pekerjaan. Otomatisasi dan kecerdasan buatan perlahan menggantikan peran manusia dalam berbagai bidang industri. Meski begitu, hal ini tidak serta-merta meniadakan kebutuhan akan tenaga manusia, melainkan mengubah bentuk keterampilan yang dibutuhkan. Pekerja masa kini dituntut untuk memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan mampu beradaptasi dengan teknologi baru. Dengan kata lain, masa depan pekerjaan bukan tentang siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang paling mampu beradaptasi dengan perubahan.
    1. Simpulan yang paling tepat berdasarkan teks di atas adalah
      1. Perkembangan teknologi akan menghilangkan semua jenis pekerjaan manusia di masa depan
      2. Tenaga manusia tidak akan mampu bersaing dengan mesin yang lebih cepat dan efisien.
      3. Teknologi mengubah kebutuhan dunia kerja, sehingga manusia harus menguasai keterampilan baru agar tetap relevan.
      4. Hanya pekerja yang memiliki kekuatan fisik tinggi yang akan bertahan di masa depan
      5.  Kemajuan teknologi membuat manusia tidak perlu lagi mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
    2. Tujuan penulis dalam teks tersebut adalah…
      1. Mengkritik dampak negatif teknologi terhadap dunia kerja modern.
      2. Menjelaskan bahwa manusia harus beradaptasi dan mengembangkan keterampilan agar tetap relevan di era teknologi
      3. Menunjukkan bahwa otomatisasi sepenuhnya akan menggantikan peran manusia dalam industri.
      4. Meyakinkan pembaca bahwa pekerjaan tradisional lebih baik daripada pekerjaan modern.
      5. Menggambarkan ketimpangan antara manusia dan mesin di masa depan
  1. Penalaran Deduktif
    1. Premis 1: Semua burung memiliki sayap.
      Premis 2: Merpati adalah burung.
      Kesimpulan yang tepat…
      1. Merpati tidak memiliki sayap
      2. Semua hewan memiliki sayap
      3. Merpati memiliki sayap 
      4. Burung tertentu tidak memiliki sayap
      5. Tidak bisa disimpulkan
    2. Premis 1: Jika sebuah benda logam dipanaskan, maka benda itu akan memuai.
      Premis 2: Besi adalah benda logam yang dipanaskan.
      Kesimpulan yang tepat…
      1. Besi tidak memuai
      2. Besi memuai
      3. Semua benda memuai
      4. Besi meleleh
      5. Tidak bisa ditentukan
    3. Premis 1: Semua karyawan yang mengikuti pelatihan manajemen akan dipromosikan.
      Premis 2: Semua yang dipromosikan akan mendapatkan bonus.
      Premis 3: Rani mengikuti pelatihan manajemen.
      Kesimpulan yang tepat…
      1. Rani tidak dipromosikan dan tidak mendapatkan bonus
      2. Rani dipromosikan tetapi tidak mendapatkan bonus
      3. Rani dipromosikan dan mendapatkan bonus
      4. Rani hanya mendapatkan bonus
      5. Tidak bisa disimpulkan
  1. Penalaran Kuantitatif
    1. Sebuah mobil menempuh jarak 360 km dengan kecepatan rata-rata 90 km/jam. Jika mobil tersebut meningkatkan kecepatannya menjadi 120 km/jam, berapa waktu yang dihemat?
      1. 30 menit
      2. 45 menit
      3. 60 menit
      4. 75 menif
      5. 90 menit
    2. Selama 5 bulan terakhir, sebuah toko menjual buku catatan. Pada bulan pertama, toko menjual 1.000 buku. Pada bulan kedua, penjualan naik 20% dari bulan pertama. Pada bulan ketiga, penjualan turun 10% dari bulan kedua. Pada bulan keempat, penjualan naik 25% dari bulan ketiga. Pada bulan kelima, penjualan turun 5% dari bulan keempat. Jika harga satu buku Rp10.000, berapa rata-rata pendapatan toko per bulan selama lima bulan tersebut?
      1. Rp11.700.000 
      2. Rp11.800.000 
      3. Rp11.900.000 
      4. Rp12.000.000
      5. Rp12.100.000

Referensi:
Gramedia. (2023). Bank Soal UTBK TPS. Gramedia Pustaka Utama.
R. S. Agarwal. (2019). A Modern Approach to Logical Reasoning. S. Chand Publishing. Intan Pariwara. (2023). Tes Potensi Skolastik UTBK 2024. Intan Pariwara.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top